27 October 2018

PROFESI DI PERFILMAN

Mau kerja di perfilman Indonesia? Ada beberapa profesi menarik dan penting selain sutradara atau penulis skenario yang bisa kalian prospek.

1. Asisten Sutradara (Assistant Director) (AD)

Adalah tangan kanan sutradara untuk mengurus schedule, memastikan kru/pemain siap suting, supaya sutradara bisa konsentrasi di urusan kreatif. AD yang pintar adalah kunci suting yang tepat waktu dan lancar.

AD terbagi atas First Assistant Director (1st AD) dan 2nd AD. Untuk produksi skala besar bisa ada 2nd AD atau 3rd AD. AD tidak mengurusi soal kreatif, jadi seharusnya bukan orang yang membuat pengadeganan, menentukan letak kamera, mengarahkan akting pemain etc. Ini tugas sutradara. Setelah terima skenario, 1st AD akan membuat breakdown skedul suting, breakdown keperluan departemen-departemen lain, dan skedul aktor. One hell of a job, tapi ini adalah seni tersendiri. Di saat suting, 2nd AD bisa siapkan aktor, cek make-up, dan bantu 1st membuat jadwal untuk besok. Fee 1st AD di film bisa sampai dengan 1/3 fee sutradara. Tapi karena tugas AD selesai setelah suting selesai, bisa cari job lebih banyak dalam setahun.

1st AD adalah orang yang tiap akan suting teriak "STAND BY!", "ROLL SOUND!", "ROLL CAMERA!" Baru setelah itu sutradaranya akan teriak "ACTION!" dan "CUT!"  AD atau astrada harus tahu at least basic knowledge dari tiap departemen termasuk penyutradaraan, kamera, artistik, semuanya. Harus ramah sekaligus tegas. Yang pemalu, pendiam, tidak bisa jadi AD. Sosok yang keren lah di lokasi. Astrada yang sering kerja dengan saya antara lain 




, dan Tommy Dewo. 

2. Production Designer (PD) dan Art Director.

Kedua jabatan ini sering dipegang satu orang di produksi film skala kecil seperti sering di Indonesia. Tapi PD tugasnya lebih besar. Setelah terima skenario dan dapat arahan sutradara, PD mendesain 'dunia' dari film termasuk set.  Ini contoh desain yang dibuat PD untuk film The Silence of the Lambs.






Ada yang bisa tebak buat set di adegan apa aja? Art director yang biasanya kerja di film-film saya termasuk @IwenRozari dan @winduart.

3. Make-up Artist (MUA) dan Special Make-up Effects MUA

Mereka bukan sekedar bedakin pemain film supaya putih tahu menor, tapi menegaskan karakter yang dipegang oleh aktor/aktris tersebut sesuai tuntutan skenario dan arahan sutradara. Make-up Artist dan Special Make-up Effects bisa dipegang orang yang sama, seperti yang dilakukan @DarwynTse untuk film Pengabdi Setan. Efek luka di kulit, make-up setan, mock-up karakter termasuk contoh tugasnya. (Pic 1 deleted scene Pengabdi Setan. Pic 2 Black Swan. Pic 3?)





Kebayang kan kerennya profesi Make-up Artist dan Special Make-up Effects di perfilman? Jumlahnya juga sedikit di Indonesia. Ini juga membutuhkan skill yang tinggi. Jadi tidak bisa modal bedak aja. Bisa belajar di pendidikan formal, kursus, tahu otodidak.

4. Casting Director dan Talent Coordinator (Talco)

Dua profesi ini juga susah dicari di Indonesia karena jumlahnya yang bagus masih sedikit. Casting Director bertugas mencari aktor/aktris yang cocok untuk karakter-karakter yang ada di skenario. Casting Director yang baik bukan sekedar memberitahukan lowongan casting ke manajemen aktor/aktris yang dia kenal, tapi aktif mencari dari tempat lain. Dari mana saja. Tentunya harus punya mata khusus untuk bisa lihat orang yang punya potensi. Bukan sekedar cari yang bening.

Banyak aktor/aktris berbakat yang aktingnya keren, termasuk di Indonesia, ditemukan oleh casting director. Calon pemain diaudisi bisa dengan disuruh baca skenario untuk karakter tertentu. Nanti para kandidat terbaik ditunjukkan ke sutradara untuk diaudisi kembali siapa yang paling cocok. Syarat untuk jadi casting director antara lain harus memiliki pengetahuan tentang akting, sangat bagus kalau punya pergaulan yang luas sehingga bisa mencari calon aktor di banyak kalangan. Casting Director di Indonesia biasanya juga merangkap sebagai Talent Coordinator. Kalau casting director bertugas sebelum suting, TalCo bertugas membantu Assistant Director untuk mengatur jadwal aktor/aktris dan mempersiapkan mereka saat suting. TalCo juga bertanggung jawab supaya aktor/aktris dalam kondisi dan mood yang prima sebelum masuk ke set untuk akting. Sedikit repot kalau ada aktor/aktris yang punya kelakuan seperti diva (ada beberapa di perfilman Indonesia untungnya belum pernah main di film saya). Talco harus selalu tahu dan menyiapkan kebutuhan para pemain. Talco harus bisa menjadi teman dari para pemain tapi juga harus bisa bertindak tegas kalau dibutuhkan. Jadi tidak bisa dipegang oleh orang tidak pede. Talco juga profesi yang kurang jumlahnya di perfilman Indonesia. 

5. Location Manager

Bertugas mencari lokasi sesuai tuntutan skenario dan arahan sutradara untuk dipakai suting. Setelah menemukan kandidat lokasi, sutradara akan melihat apakah sesuai yang dia bayangkan. Kalau cocok, Location Manager harus mengurus perijinan dan sewa tempat tersebut. Location Manager harus luwes berkomunikasi supaya diberikan ijin oleh pemilik lokasi, mudah mengurus perijinan, dan bisa dapat harga sewa yang murah. Ini adalah salah satu profesi yang sangat jarang di perfilman Indonesia. Padahal tidak harus menempuh pendidikan khusus. Sudahlah jarang, yang ada banyak yang tidak jujur. Sering mark-up harga tahu kongkalikong dengan pemilik lokasi untuk naikin harga. Jadi kalau ada yang jujur, pasti akan sering dipakai jasanya. Ayolah coba. 

Btw, cara untuk bisa kerja di perfilman biasanya dimulai dari magang. Bisa lihat cara kerja orang-orang secara langsung. Kalau rajin dan cekatan pasti next-nya akan dipekerjakan secara profesional. Jadi anak magang jangan malas apalagi banyak omong. Observe, bagaimana caranya bisa tahu ada film yang akan diproduksi sehingga bisa magang? Cari tahu lah, bisa lewat medsos, bisa dengan bergaul. Dulu saja tidak ada medsos yang mau kerja dia bisa dapat info kok. Setelah dapat info, kirim surat lamaran magang dengan proper. Jangan cuma messej di medsos.

6. Sutradara

Untuk menjadi Sutradara haruslah tegas sebagai kapten (bukan raja) di lapangan, tapi juga harus mengayomi. Kru dan pemain jumlahnya bisa ratusan, sutradara harus bisa membuat suasana suting menyenangkan tapi tetap serius dan kerja keras. Sebelum satu hari suting berakhir, asisten sutradara akan berkonsultasi untuk rencana suting hari berikutnya, begitu dilakukan setiiap hari pada masa syuting. Come early. Visualize. Block. Light. Rehearse. Tweak. Shoot. Repeat. Masuk ke tahap pasca-produksi. Sutradara harus paham 'workflow' pasca-produksi, yaitu alur pengerjaan materi, sekalipun biasanya ada Produser Pasca-produksi. Di tahap ini materi yang sudah disyut bisa rusak kalau salah workflow. Terjadi ke salah satu film recently.

6. Editor

Materi film yang sudah disyut akan diedit oleh editor dan akan mempresentasikan hasilnya ke sutradara. Sutradara mungkin mendampingi editor saat editing sehingga sutradara juga harus paham teknis dan seni editing. Perbedaan 24 fps dan 26 fps saja bisa menimbulkan masalah. Masa editing ini bisa mengambil waktu berbulan-bulan, apalagi kalau tidak ada kesepakatan antara sutradara dan produser, tahu editornya pusing karena materi yang disyut sutradara susah untuk diedit jadi sebuah film yang koheren dalam bercerita. Setelah editing selesai, masuk masa color grading, sound design, music scoring, visual effects (kalau ada). Sutradara harus selalu siap mendampingi pengerjaannya tapi juga memberikan ruang untuk mereka berkreasi.

7. Colorist

Color grading adalah proses mengulik warna untuk membuat keseluruhan film senafas dalam satu konsep. Di tahap ini, tekniksinya yang disebut 'colorist' akan didampingi sutradara dan DP. Untuk satu film, biasanya saya butuh 1 minggu. 




Setelah semua departemen selesai bekerja dan disatukan menjadi satu film utuh, masih harus direvisi beberapa kali sehingga jadi film utuh. Tentu saja, penjelasan saya di atas sepanjang thread ini adalah penyederhanaan dari proses pembuatan film yang sangat kompleks dan membutuhkan keahlian DAN keseriusan yang tinggi. Semua disiplin ilmu di film harus dipelajari, bisa di pendidikan formal, kursus pendek, tahu otodidak.  Saya merekomendasikan belajar pembuatan film di sekolah film karena akan mempelajari ilmunya dengan runut. Saya belajar film secara otodidak dan merasakan kesulitannya. 

8. Penulis Skenario

Pertama, ini harus dipahami dulu: menulis skenario sama seperti menyanyi. Banyak yang pede bisa nyanyi padahal fals. Seperti menyanyi, yang ingin jadi penulis skenario akan lebih gampang kalau punya bakat. Tapi, seperti menyanyi, menulis skenario bisa dipelajari.


Penulis skenario harus orang yang sensitif, sensibel, cerdas, paham emosi manusia, rapuh sekaligus tegar, paham kebaikan dan sisi tergelap manusia. Karena tugasnya adalah menuangkan semua jangkauan emosi manusia dalam tulisan. Penulis skenario harus bisa menempatkan dirinya sejajar dengan target penontonnya, secerdas apapun dia. Karena kalau menempatkan dirinya di atas, ceritanya akan sulit diakses, menggurui tahu, lebih buruk, seperti propaganda. Kalau di bawah, penonton akan mentertawakan ceritanya. Perbedaan skenario dengan bentuk tulisan lainnya adalah, skenario ditujukan untuk dikonsumsi selama durasi tertentu dan dalam satu waktu, 

Berbeda dengan novel, misalnya, yang bisa ditutup dulu untuk dilanjutkan di lain waktu. Untuk tujuan menjaga penonton tetap mau duduk menonton film, sejak film berkembang menjadi format seperti sekarang, para praktisi mencoba memformulasikan struktur skenario yang dipercaya bisa membuat penonton mudah mengikuti cerita film.  Muncullah beberapa 'model struktur' yang dipercaya bisa membuat film mudah diikuti penonton dengan nama-nama fancy termasuk 'Struktur 3 Babak', 'Prinsip 8 Plot Point', '15 Beats Story Structure' yang harus dipelajari untuk paham tujuannya. 



Tentu saja kalau bisa menemukan/menciptakan sendiri struktur skenario yang bisa lebih membuat cerita lebih mudah tersampaikan tahu lebih menarik, penulis bebas menggunakannya. Tapi model yang sudah ada harus dipelajari dulu untuk tahu berguna tahu tidak.

Bagmana sejauh ini? Ribet ya?.

Sebagaimana halnya dengan profesi lain, ya memang harus dipelajari dulu ilmunya. Bukan sekedar bisa mengetik langsung bisa jadi penulis skenario.  Buku tentang penulisan skenario banyak bisa dibaca. Bisa kursus atau sekolah. Setelah struktur, ada juga format baku yang harus diikuti, ukuran kertas, spasi, jenis dan ukuran font, dsb. Daaaann... Hal-hal di atas baru kerangka, masih keranjang yang harus diisi dengan karakter-karakter, dialog, perbuatan dan sebgainya yang juga butuh skill tersendiri. Aku juga selalu mumet. 
Penulis bisa menulis atas inisiatifnya sendiri lalu ditawarkan ke perusahaan film atau produser, tahu menulis setelah di-hire oleh produser untuk menulis.


Tidak seperti di Hollywood, misalnya di mana penulis punya agent yang akan kirim skenarionya ke produser-produser, penulis skenario Indonesia harus cari jalan sendiri untuk bisa tunjukkan skenario mereka ke produser. Ini juga mungkin yang menyebabkan jarang penulis skenario yang benar-benar punya bakat bisa 'ditemukan' karena banyak yang menjadi penulis skenario karena kedekatan mereka dengan orang film, tidak salah tentunya, kalau memang punya bakat dan bukan hanya dicemplungin.

Di Indonesia seperti halnya dengan profesi lain, penulis skenario seharusnya membuat benchmark mereka sendiri setinggi mungkin, karena kemampuan baca skenario yang baik masih jarang dimiliki penonton, bahkan produser, sehingga sangat mudah dapat pujian tahu penghargaan, Kalau langsung puas itu namanya konyol. 

9. Publisis Film

Ini adalah profesi yang masih sangat jarang di Indonesia. Siapa tahu ada yang tertarik. Pertama harus dipahami tugas publisis film tidak sama dengan marketing film. Marketing film bertugas membuat strategi marketing dan menjalankannya. Lingkup kerja marketing jauh lebih luas, dan di Indonesia masih belum ada yang paham model marketing untuk film Indonesia yang efektif. 

Publisis film bertugas mempublikasikan informasi ttg sebuah film. Publisis mulai bekerja saat film diberitahukan ke masyarakat. Mereka membuat PRESS KIT yang biasanya berisi sinopsis, production notes, susunan pemain dan kru, dsb. Bisa dalam bentuk cetak, tahu soft copy. Kedengarannya memang sederhana, tapi percayalah, tidak banyak yang bisa membuat sinopsis sebuah film dengan ringkas, informatif, dan menarik. Lihat aja sinopsis-sinopsis film Indonesia sekarang, endingnya masih banyak yang tebak-tebakan, tidak berkembang sejak tahun 70an. Publisis juga memastikan informasi tentang film sampai ke sebanyak-banyaknya media yang cocok untuk filmnya. Bisa dilakukan lewat konferensi pers, langsung kirim ke media, tahu cara-cara lain termasuk pendekatan personal. Untuk itu, publisis film harus punya jaringan yang kuat dengan media.

Publisis juga mengatur Jadwal untuk interview para pemain dan kru dengan wartawan. Mereka juga mengatur pemutaran film untuk pers, gala premiere, dan screening khusus seperti road show ke daerah-daerah yang biasanya juga disertai dengan interview dengan media setempat.

Sumber : @jokoanwar