Mungkin sama atau mungkin gak sama sekali karena gak ada yang pasti di dunia ini, ga penuh dengan basa basi, ini ya ini...itu ya itu, bukan abu-abu..ada ya disyukuri ga ada ya diusahakan supaya ada, kalau ga dapat juga ya sudah syukuri lagi, saya butuh ya saya usaha kalau ga usaha berarti ga butuh . Pilihan itu memang harus dipertimbangkan, memang ada resikonya, bisa jadi resiko itu menguntungkan pada akhirnya bisa jadi juga merugikan, pikir-pikir lagi deh "cara mandangmu"


Pasca dihentikannya penyelidikan atas laporan terpidana Antasari Azhar oleh Bareskrim Polri sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Herry Rudolf Nahak yang menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat menemukan dua alat bukti sebagai syarat untuk meningkatkan status laporan tersebut, tampaknya membawa atmosfir baru dalam kehidupan Antasari. Penghentian ini bisa berujung kepada 2 hal, pertama Antasari menjadi ksatria dengan mengaku salah dan minta maaf atau Antasari harus behadapan dengan ancaman hukuman atas laporan pencemaran nama baik yang dilakukannya kepada Presiden RI Ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono yang juga sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat.

Babak baru dimulai, bola ditangan Antasari Azhar, apakah dirinya adalah seorang ksatria atau hanya seorang pecundang politik tergantung kepada sikap dan langkah Antasari selanjutnya. Antasari mungkin saja saat ini menyesali dirinya, atau mungkin saja sedang menangisi dirinya yang telah tanpa berpikir panjang menebar berita fitnah tentang SBY yang dituduh berada dibalik rekayasa hukum atas jatuhnya Antasari kedalam hukuman penjara atas vonis pembunuhan Nasrudin, rekan Antasari sejak lama. Atau mungkinkah saat ini Antasari tertawa dengan semua situasi ini karena dirinya sudah menduga akan ujung dari laporannya? Jika demikian, maka dugaan bahwa tindak tanduk Antasari hanyalah untuk kepentingan politik menjadi patut diambil sebagai sebuah kesimpulan.

Perkara baru akan bergulir yaitu proses tindak lanjut dari laporan pencemaran nama baik SBY yang dilakukan oleh Antasari Azhar. 15 Pebruari 2017 tim Kuasa Hukum SBY resmi melaporkan Antasari Azhar ke Bareskrim Polri setelah malam harinya 14 Pebruari 2017 mendatangi Bareskrim. Antasari dilaporkan dengan Pasal 310 dan 311 KUHP juncto Pasal 27 UU ITE No 8 tahun 2011. Ancaman hukuman yang berat dan tentu bisa membawa Antasari kembali mendekam didalam penjara adalah ancaman serius dan bukan main-main. Antasari sedang menggali lobang untuk dirinya.

Perkara hukum yang menjerat Antasari Azhar bukanlah perkara rekayasa atau perkara yang sengaja dibuat seperti yang dituduhkan oleh Antasari. Opini dan persepsi pribadi seorang terpidana adalah sebuah persepsi buruk yang sama sekali tidak layak dipercaya. Seorang terdakwa di pengadilan memang boleh saja berbohong untuk membela dirinya, itu sah saja. Namun jika terpidana masih harus terus menciptakan kebohongan untuk membersihkan dirinya adalah sebuah sikap buruk, jahat dan barbar. Terlebih lagi jika ada yang percaya dengan opini serta persepsi seorang terpidana sebagai sebuah kebenaran.

Saya sangat prihatin, dan tentu kita semua harus prihatin melihat sikap presiden Jokowi yang pernah memberikan karpet merah bagi seorang terpidana di Istana. Presiden itu mewakili negara, yang menjadikan Antasari itu menjadi terhukum dan menjadi terpidana adalah atas kewajiban Negara, lantas mengapa Presiden Jokowi seperti berseberangan sikap dengan negara dan seolah percaya dengan persepsi Antasari? Presiden kedepan harus bisa lebih bijak dalam mengelola negara. Apakah Presiden tidak merasa risih percaya kepada persepsi Antasari jika mendengar rekaman suara Antasari dengan Rani yang dijadikan bukti di pengadilan dulu?

Kembali kepada pribadi Antasari Azhar. Ancaman proses hukum didepan mata. Pilihan ada ditangan Antasari. Yang kami pahami, SBY pun tidak pernah ingin memenjarakan siapapun, tidak ingin menghukum siapapun, tapi SBY harus membela dirinya dari serangan fitnah secara benar yaitu menempuh jalur hukum. Saya meyakini, andai Antasari meminta maaf secara terbuka telah memfitnah SBY, maka pintu maaf akan dibukakan kepada Antasari karena SBY adalah sosok negarawan yang bijaksana.

Masalahnya sekarang, ada pada Antasari. Tuan Antasari, beranikah tuan dengan jujur mengaku salah dan minta maaf?

Makasar, 18 Mei 2017
Ferdinand Hutahaean

Saya ingin mengutip sahabat saya Jansen Sitindaon yang selama ini aktif menulis artikel-artikel kepublik sebagai pencerahan, tadi malam saat sebuah diskusi dengan logat khas Bataknya yang kental menyatakan : "Lampu Republik ini hampir padam, harinya sudah senja dan menjelang malam." Pernyataan tersebut terlontar dan mengalir deras melihat situasi sekarang diantara perang Lilin dengan Obor yang keduanya adalah simbol penerangan alternatif dan penerangan tradisional.

Ada makna yang sarat yang saya dapati dari ungkapan tersebut. Saya mencoba menggunakan nalar saya untuk mengartikan kalimat pendek itu bahwa bangsa ini sedang kehilangan pemimpin, bangsa ini sedang kehilangan cahaya dan bahkan menuju kegelapan. Sementara para pemimpin pemegang pelita bangsa menghilang entah kemana seolah sedang tidak perduli dengan apa yang terjadi atau mungkin merasa semua baik-baik saja dan tidak ada masalah. Memang tergantung kapasitas pemahaman dan cara pandang setiap orang untuk menyikapi keadaan ini. Namun bagi kami, saya sepakat bahwa saat ini bangsa kita sedang kritis dan berada diujung bibir kegelapan kebangsaan.

Ketika bangsa ini sedang berada dijalur menuju bangsa yang besar dengan capaian-capaian dan jalan yang disiapkan oleh pemerintahan sebelumnya, tiba-tiba bangsa ini masuk kedalam sebuah situasi yang sangat tidak baik. Kegaduhan demi kegaduhan tidak henti-hentinya terjadi sejak rejim Jokowi berkuasa. Kegaduhan internal yang berlangsung sejak awal kabinet, kemudian berubah sekarang menjadi kegaduhan diluar dan ditengah publik. *Kegaduhan yang tidak seharusnya timbul andai jika kepemimpinan Jokowi tidak lemah, andai kepemimpinan Jokowi serius menyikapi masalah secara benar dan tepat. Dan tentu kegaduhan ini tidak akan terjadi andai para elit bangsa tidak saling sikut, tidak saling sepak dan tidak saling merasa satu dengan yang lain sebagai lawan politik dan lawan bisnis, serta tidak merasa yang lain bakal menjadi kompetitor politik 2019 nanti.

Elit bangsa kita kehilangan pelita dan kehilangan sikap negarawan. Ketidak akuran atau bahkan perbedaan sikap antara Presiden dan Wakil Presiden tentu bukanlah sesuatu hal yang main-main dan bisa disepelekan begitu saja. Perbedaan sikap yang menuju polarisasi perpecahan kepemimpinan itu tentu akan sangat berimbas secara politik ditengah publik. Elit yang berkuasa dan para elit Partai pendukung pemerintah juga tidak memberikan kontribusi positif menjadi pelindung dan menjadi pengayom seluruh komponen bangsa, namun menarik garis perbedaan dan permusuhan dengan pihak ekit politik yang berbeda sikap. Merasa benar sendiri dan tidak mau mendengar yang lain. Itulah pangkal masalah semua kegaduhan bangsa ini yang kemudian terkormirmasi dengan lemahnya kepemimpinan Presiden Jokowi yang tidak kunjung bisa menjadi pemimpin bagi semua kelompok, semua golongan dan semua elit.

Situasi dan kondisi politik, ekonomi dan keamanan yang tidak kunjung membaik kini justru menuju arah berbalik dari harapan untuk berkembang. Berbalik menuju arah mundur dari impian untuk meroket keatas. Pasti ada yang salah dan tidak beres dari semua ini. Mungkin salah satunya adalah Presiden harus merubah cara-cara mengelola negara ini. Mengembalikan institusi negara kepada fungsinya dan menghindari orang-orang politik dari pucuk pimpinan lembaga penegakan hukum dan lembaga intelijen negara. Betapa malunya bangsa ini ketika menjadi sebuah anekdot ditengah publik, meski hanya untuk sekedar canda politik, keluar ungkapan-ungkapan yang mendegradasi institusi negara seperti yang ada kawasan di Blok M, di Trunojoyo dan di kawasan Pejaten Kalibata disebut sebagai Dewan Pimpinan Cabang Partai Politik tertentu. Ini canda politik yang harus dimaknai serius oleh Presiden karena tentu bermana negatif.

Polarisasi kian menjurus kepada dua kubu yang sangat mungkin terjadi benturan. Polarisasi bersumbu pada Agama dan Etnis tertentu akan sangat mudah menjadi bahan bakar yang siap menghanguskan semua kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Adakah kita menginginkan pertumpahan darah sebagai sesama anak bangsa yang selalu teriak lantang cinta NKRI, cinta Pancasila? Mulut dan lidah bermanis-manis mengucapkan cinta NKRI, Pancasila dan cinta Kebhinekaan, namun tangan kita semua saling menghunus pedang dan memegang api yang siap membakar. Itukah kita sekarang? Seperti itukah anak-anak bangsa ini sekarang?

Polarisasi gerakan lilin dan obor semakin menuju perpecahan. Gerakan-gerakan yang justru tidak perlu dan berpotensi meluluh lantahkan bangsa ini. Tidak bisakah kita menghormati negara ini? Tidak bisakah kita menghormati penegakan hukum yang dilakukan oleh negara yang diwakili pemerintah?Negaralah yang mendakwa dan menuntut Ahok, Negara jugalah yang menghukum Ahok atas kekuasaan Yudikatif, Negara jugalah yang mengeksekusi perintah hukum. Lantas mengapa pemerintah juga seperti tidak menerima hasil dari kewajiban negara yang dikerjakannya? Oknum dalam pemimpin institusi Kejaksaan patut diduga sepertinya menunjukkan sikap tidak menerima putusan pengadilan terhadap Ahok, padahal Polri yang menetapkan Ahok sebagai Tersangka dan Kejaksaan yang mendakwa dan menuntutnya atas nama negara. Lantas, wajarkah sikap itu? Sementara disisi lain dari pihak yang berseberangan dengan Ahok juga harus saya nyatakan berlebihan dalam euforia kegembiraan menyambut vonis Ahok. Hingga kubu yang berbeda saling berhadap-hadapan dengan paham yang berbeda.
Saat ini adalah era dimana hitungan jam eskalasi perubahan politik dan keamanan berubah dengan sangat cepat. Aksi dibalas aksi hanya akan berujung pada perpecahan. Hunusan pedang akan dibalas hunusan pedang, caci maki akan berbalas caci maki, lantas dimana letak kecintaan kita kepada NKRI dan Pancasila serta Kebhinekaan itu? Ataukah itu cuma dimulut saja tanpa tindakan? Kita semua telah membawa bangsa ini kedalam jurang petaka yang hanya akan berujung pada kematian bangsa ini. Inikah yang kita inginkan? Jika anda menjawab ya, maka siapapun anda akan berhafapan dengan kami anak bangsa yang tidak akan membiarkan bangsa ini tercabik sedikitpun. TNI masih berdiri tegap meski sekarang agak belum bersikap secara tegas, namun TNI kami yakini tidak akan biarkan negeri ini terkoyak oleh apapun, termasuk oleh kepentingan politik presiden yang secara konstitusi adalah pemegang kekuasaan tertinggi TNI.

Pertanyaan paling besar salah satunya saat ini adalah, DIMANAKAH PRESIDEN SAAT INI? MENGAPA TIDAK KUNJUNG MENEMPUH LANGKAH TEGAS DAN BIJAK UNTUK MENGAKHIRI SEMUA KONFLIK INI?

Saya teringat dalam perjalanan politik presiden Jokowi yang bahkan berkali-kali mendatangi gorong-gorong, masuk ke got dan memeriksa serta memastikan got tersebut baik-baik dan berfungsi. Begitu pentingnya gorong-gorong itu bagi Jokowi hingga harus didatangi dan diamati serta diperiksa secara detil. Lantas saya mencoba menarik garis kata PENTING itu kedalam situasi bangsa saat ini, dimana polarisasi semakin terkutub antara mayoritas minoritas, pribumi non pribumi, sumbunya Agama dan Etnis, namun Presiden tidak kunjung angkat bicara, presiden tidak kunjung turun menyelesaikan masalah dengan serius, presiden belum terlihat melakukan sesuatu padahal melakukan sesuatu jauh lebih berguna daripada tidak melakukan sesuatu. Presiden bahkan memilih pamer kemampuan naik motor trail di Papua dan pamer foto di Mesjid tua di Cina. Foto di Mesjid tua itu memang pesan bisu kepada para pendukung Ahok, bahwa Jokowi akan memilih sikap berada dipihak yang menguntungkannya secara politik yaitu meninggalkan dukungannya kepada Ahok.

Di akhir artikel ini, bukan tentang Ahok atau motor trail serta foto di Mesjid tua itu yang jadi bahasan, namun adalah lebih penting mana sesungguhnya gorong-gorong bagi Jokowi dan sejauh apa pentingnya keutuhan dan persatuan bangsa bagi Jokowi? Gorong-gorong yang diam bisu saja dikunjungi berkali-kali, lantas mengapa Presiden Jokowi belum juga turun mengatasi masalah bangsa dengan ancaman perecahan ini? Lebih penting kah gorong-gorong bagimu Pak Presiden?
Jakarta, 16 Mei 2017
If I were to say, 'God, why me?' about the bad things, then I should have said, 'God, why me?' about the good things that happened in my life. –Arthur Ashe

Di atas adalah kutipan yang sangat popular dari Arthur Ashe, legenda tenis Amerika Serikat, petenis kulit hitam pertama yang masuk dalam tim Davis Cup AS. Ashe mengatakan hal tersebut tak lama setelah dia didiagnosa menderita HIV-AIDS—penyakit yang paling ditakuti pada decade 1980-1990-an—Tentu Ashe begitu gundah, mungkin juga marah. Meski seorang pesohor, Ashe bukanlah tipikal atlet kondang yang gemar gonta-ganti pasangan atau bergaya hidup dengan potensi terkena HIV yang besar. Dia terkena penyakit itu akibat transfusi darah saat menjalani operasi bypass jantung pada awal 1980-an.

God, why me? Tuhan mengapa saya yang terkena musibah ini? Sebagai umat beragama dan percaya pada karya Ilahi, Ashe tentu juga yakin, semua ini adalah kehendak Tuhan. Mengapa dia yang terkena? Hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Tapi bagi Ashe, dia punya pemikiran lain. Dia sadar, saat semua kejayaan duniawi datang kepada dirinya, dia tidak pernah bertanya, Tuhan mengapa saya yang juara? Dia tidak pernah menggugat, Tuhan, mengapa saya diberi begitu banyak berkah sepanjang hidup saya? Oleh sebab itu kalimat tanyanya berlanjut, then I should have said, 'God, why me?' about the good things that happened in my life, Tuhan mengapa semua hal baik ini juga terjadi pada saya?
Jauh sebelum Ashe terkena HIV-AIDS, Tuhan memang begitu "baik hati" padanya. Lahir di Richmond, Virgina, AS, 10 Juni 1943, Ashe menjadi petenis kulit hitam pertama yang mampu menembus dominasi kulit putih di ajang grandslam Wimbledon, US Open dan Australia Open. Dia juga menjadi petenis kulit hitam pertama yang mampu menduduki kursi petenis nomor satu dunia. Saat pensiun dari dunia tenis, namanya diabadikan menjadi salah satu stadion di Flushing Meadows, arena yang dipakai untuk seri Grand Slam US Open. Jadi, nikmat dan berkah apa yang hendak dia sangkal atas pemberian Tuhan?

Menyimak perjalanan hidup Ashe, dalam hidup seringkali kita hanya fokus, dan terutama menjadi ingat Tuhan manakala sedang kesulitan, sedang kesusahan, tengah ditimpa musibah. Kita mengeluh, kadang mempersalahkan Tuhan, mengapa semua kesulitan hidup ini terjadi pada saya? Kita lupa, saat kejayaan datang, saat rejeki berlimpah, saat kasih sayang orang-orang di sekitar kita mengalir bak sungai di musim hujan, kita tidak mengucap syukur. Kita lupa. Kita tidak bertanya dengan tajam mendaras, Tuhan, mengapa semua kebahagiaan ini datang kepada saya?

Ibu saya, seorang beretnis Jawa yang dibesarkan di lingkungan susteran di Solo, Jawa Tengah, selalu mengatakan hal yang kurang lebih sama. Menurut dia, hidup seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. "Kalau sedang di atas, ingat yang di bawah. Kalau sedang di bawah, ingat bahwa ada yang lebih sulit dari hidup kita di luaran sana," Dulu saya tidak pernah memahami sepenuhnya nasihat sederhana ibu saya yang sekarang sudah sangat sepuh itu. Kalimat seterusnya yang saya ingat adalah, dalam hidup jangan hanya melihat ke atas, lebih seringlah melihat ke bawah, ujar ibu dengan bahasa jawanya yang lembut.

Setelah beranjak dewasa, terutama setelah memasuki dunia kerja, saya baru paham maksud nasihat-nasihat ibu saya itu. Intinya, apapun yang kita terima, kita capai dalam hidup, bersyukurlah, jangan pernah mengeluh. Terutama berkaitan dengan rejeki, bersyukurlah dengan apa yang didapat sepanjang sudah diupayakan secara maksimal. Sebab, uang dan harta duniawi tidak akan pernah cukup tanpa rasa syukur. Begitu kita bersyukur, saat itu pula kita merasa semuanya tercukupi, sekecil apapun rejeki yang kita dapat. Saya teringat nasihat ibu, rejeki sekecil apapun kita syukuri jika melihat misalnya orang-orang yang tidak seberuntung saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak kawan saya yang lama menjadi pengangguran sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang pas-pasan. Nah, inilah inti melihat ke bawah…kita bersyukur karena mendapat rejeki yang lebih baik.

Sebaliknya kita hanya akan mengeluh jika "lebih banyak melihat ke atas". Maksudnya, saya akan iri hati, dengki dan menjadi tidak bahagia dengan gaji saya jika membayangkan kawan-kawan saya yang bekerja di industry keuangan. Kala itu, awal 1990-an, ketika sector keuangan Indonesia (perbankan, bursa saham dan futures trading) mengalami booming, gaji di industry keuangan rata-rata besarnya 3-5 kali lipat (fresh graduate) dibandingkan industry media dimana saya bergelut. Melihat ke atas, membandingkan dengan kawan-kawan yang bergaji besar dengan mobil-mobil mentereng, pasti membuat saya iri, marah pada keadaan dan mengeluh. "Gelar sarjana sama, pendidikan sama (bahkan IPK saya lebih bagus, hahaha), kok gaji saya lebih kecil…kecil banget dibanding mereka?". Tapi saya kemudian ingat nasihat ibu, jangan memandang ke atas, pandang ke bawah dan bersyukurlah…
Setelah 25 tahun menggeluti dunia media massa sebagai jurnalis, kini justru saya yang merasa lebih beruntung dibandingkan sebagian besar kawan-kawan saya yang secara materi jauh lebih makmur, lebih kaya raya dengan harta yang nyaris tidak pernah saya bayangkan. Tentu ini hanya perasaan saya, karena pastilah kawan-kawan saya tadi juga merasa sangat berbahagia dengan semua berkah Ilahi yang mereka peroleh. Namun kembali pada konteks bersyukur setiap saat, saya kini merasa sangat bahagia.

Hal itu saya dapat misalnya dari hal-hal besar sampai hal kecil dalam pengalaman sebagai jurnalis. Saya punya kesempatan langka keliling dunia karena pekerjaan saya sebagai pewarta. Saya mengunjungi pelosok dunia, dari negeri yang paling miskin Kamboja sampai negara super kaya Amerika Serikat, nyaris tanpa keluar biaya karena semua dibiayai kantor atas nama tugas liputan. Saya pernah bertualang di hutan rimba raya Amazon, meliput Piala Dunia sepak bola, Piala Eropa dan banyak lagi. Sementara kawan-kawan saya, mungkin bisa juga keliling dunia, tapi pakai biaya sendiri…(hahahaha).

Hal kecil misalnya, saya bisa bekerja memakai celana pendek di kantor, bisa ber t-shirt ria, bisa naik sepeda bahkan touring berhari-hari tanpa ketakutan bakal di-PHK….Saya bisa masak indomie di kantor kapanpun saya mau, saya bisa tidur di kolong kubikel saya tanpa takut akan dimarahi bos…Sementara teman-teman saya yang gajinya besar sekali, harus pake dasi tiap hari, kudu rapih, dan pasti ga bisa pake celana pendek di kantor….(hahaha)

Pada akhirnya, semua anugrah yang saya dapat, dari hal besar sampai urusan remeh temeh bercelana pendek, adalah kemampuan kita bersyukur pada setiap kesempatan. Kebahagiaan hakiki hanya bisa kita dapatkan jika terus bersyukur, menikmati setiap tetes berkah yang diberikan Tuhan kepada kita…..

(Anton Sanjoyo, jurnalis Kompas)