Ribut berarti bertengkar, sedangkan rukun berarti damai. Jadi, ribut dan rukun tidak ada persamaannya, bahkan kedua kata itu saling bertolak belakang. Akan tetapi di dalam kehidupan keluarga ribut dan rukun adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, kehidupan keluarga ditandai dengan suasana ribut dan rukun. Biar bagaimanapun rukunnya suatu keluarga, bukankah dalam kenyataannya terjadi juga keributan? Mana ada suami istri yang tidak pernah ribut? Atau adik kakak yang tidak pernah bertengkar? Atau anak dan orangtua yang tidak pernah bertikai? Lebih baik kita bersikap realistis dan mengakui bahwa ribut dan rukun memang saling bergandengan dalam perjalanan hidup keluarga kita.
Mengapa anggota-anggota satu keluarga yang rukun dan saling mencintai dapat juga bertengkar? Penyebabnya tentu berbeda-beda. Namun secara umum, penyebab hakikinya adalah karena mereka saling mencintai. Di sini terdapat paradoks (dua hal yang saling bertentangan) dan kausalitas (dua hal yang saling menyebabkan). Anggota-anggota satu keluarga adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita. Mereka adalah orang-orang yang paling kita andalakan. Karena itu kita mempunyai EKSPEKTASI (harapan yang mengandung unsur tuntutan) yang tinggi dari mereka. Tetapi sebagai orang dekat, kita juga mudah melihat segala keburukan mereka. Ekspektasi kita berbeda dari kenyataan. Kita bisa menjadi kecewa. Lalu kita menjadi kesal. Selanjutnya, sebagai orang dekat kita tidak sungkan mengecam. Kecaman itu dapat menimbulkan keributan. Akibatnya dapat timbul perasaan benci. Di sini letak paradoksnya : kita benci padahal kita saling mencintai. Di sini letak kausalitasnya : kita benci karena kita saling mencintai. Itu sebabnya kata ‘benci’ seolah-olah merupakan singkatan dari ‘benar-benar cinta’. Anggota-anggota keluarga adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita. Mereka dekat baik dalam jarak, maupun dalam intimitas. Kedekatan itu menimbulkan hubungan yang intens dan memunculkan beraneka ragam perasaan. Pelbagai perasaan itu, misalnya cinta, kecewa, butuh, amarah, rindu, peduli, iba, cemas, kesal atau lainnya, dapat menimbulkan kerukunan dan serempak juga keributan.
Hubungan orang-orang dalam keluarga memang penuh dengan dinamika. Mereka ibarat telur dalam keranjang. Kapan telur-telur itu berbenturan dan menjadi retak? Kalau mereka terletak dalam satu keranjang yang sama. Dua telur yang terletak berjauhan atau dalam keranjang yang berbeda tidak mungkin akan berbenturan. Tetapi justru telur yang terletak dalam satu keranjang yang sama akan berbenturan. Anak dan orangtua, suami dan istri, kakak dan adik, mertua dan menantu, kemenakan dan ipar adalah ibarat telur-telur di dalam keranjang. Mereka berdekatan, karena itu mereka berbenturan. Tetapi mereka tetap saling butuh dan saling cinta. Mereka ribut meskipun rukun, mereka rukun meskipun ribut. Itulah hidup berkeluarga. Selamat hidup dalam keluarga.
Sumber Tulisan : Selamat Ribut Rukun (Dr. Andar Ismail) ©1993
No comments:
Post a Comment
silahkan Pos kan Komentarmu, dimohon tidak berbau sara, provokasi, apalagi melanggar hukum, Thank you.