Pada ibu, kita cuma perlu minta restunya dalam perjuangan (entah untuk kebebasan atau cuma kekuasaan). Bukan kita minta tinjunya untuk memukul lawan, Supaya lawan tak punya alasan memukul ibu kita. Kalah pun kita, dia tak tersentuh & kita tetap pemenang di pangkuannya. Filsuf Albert Camus pernah berkata "di depan keadilan, aku akan membela ibuku". Karena itu jangan biarkan ibu kita melakukan perkelahian yg tak perlu, memukul yang tak perlu dan dipukul untuk alasan apapun..yang tentunya juga tak perlu.
Dulu saya melarang ibu saya (yang suka diwawancara wartawan) untuk mengutuk Orba. Saya minta ibu hanya untuk berkata yang baik-baik saja. Saya tak mau rasa marahnya membuat saya harus juga melindunginya dari pukulan balik dari Orba, padahal untuk membela diri pun saya tidak mampu. Ibu adalah matahari. Ia harus bisa memberikan hangatnya pada siapapun, pun pada lawan-lawanku yang memusuhi anaknya. Ibu sudah bertaruh hidup & mati untuk eksistensi kita saat melahirkan kita. Dan tak perlulah dia lagi-lagi harus bertaruh hidup & mati untuk esensi kita (ide-ide kita)..Apalagi cuma untuk ambisi-ambisi kita.
- Kaum ibu seluruh dunia, restuilah anak-anakmu. Pada masanya, anak-anakmu akan pulang dari sebuah pertarungan. Jika dia pemenang, peluklah. Jika dia kalah, biarkan dia memelukmu. Lahirkan dirinya untuk ke dua kalinya. Saya akhiri thread saya ini dengan lagu favorit saya waktu TK, "Mama" oleh Heintje (versi Belanda, meskipun yang saya dengar waktu TK dulu versi Jerman) .
Oleh : Budiman Sudjatmiko

sangat menginspirasi
ReplyDelete