12 February 2019

SELEBTWEET SYNDROME, dan dampaknya terhadap KESEHATAN MENTAL

Seperti biasanya, nulisku pelan. Jadi, kamu bacanya jangan tergesa ya ☕️ . Selebtweet syndrome ini juga berlaku buat selebgram syndrome. Secara umum, syndrome ini disebut dengan star syndrome. Apa itu?

Tanpa sadar punya keinginan untuk terus menjadi pusat perhatian, pingin jadi bintang, merasa paling benar, haus pujian, enggak terima kalau diberi saran. Apa syndrome ini hanya dialami oleh orang yang punya follower atau subscriber banyak?

Enggak. Yang follower atau subscribernya sedikit pun bisa kena syndrome ini. Siapapun yang sering menganggap rendah orang lain, dan merasa dirinya paling keren, berarti terjebak star syndrome. Saya pun pernah terkena star syndrome.

Karena lahir di keluarga broken home, ibu mendidik saya begitu disiplin. Agar berprestasi enggak kalah dgn yg lainnya. Hasilnya sering juara kelas. Sering dipuji, cukup dikenal.

Akumulasi ini tanpa sadar menjebak saya dalam star syndrome. Jumlah followers yang kian bertambah, semakin banyak yang RT tweet saya, yang ngelike foto IG saya, semakin bertambah orang yang memuji dan berterima kasih ke saya. Ditambah semakin risih kalau ada orang yang berbeda pendapat dengan saya.

Ini pun bikin saya terkena star syndrome. Ada pengalaman yg begitu keras menampar saya

Dulu banget, diundang jadi pembicara di suatu acara. Karena star syndrome, tanpa sadar saya merasa saya ini pembicara paling keren. Pembicara lain pasti lebih jelek. Tapi ternyata, usai acara, banyak peserta menilai sesi saya B aja ☺️. Pengalaman lainnya. Pernah nulis, ngetweet, atau share kabar di social media dan WA. Karena star syndrome, tanpa sadar saya merasa paling bener. Ada yang membantah, saya ngotot enggak terima.

Tapi ternyata setelah ditelusuri lebih teliti, saya yang keliru. Atau kabar itu hoax ☺️.  Pelajaran apa yang saya dapatkan dari pengalaman itu?

Sampai saat ini pun, meski udah ditampar pengalaman berkali-kali, saya belum sepenuhnya terbebas dari star syndrome. Cuma kalau dibandingkan dulu, sekarang kadar star syndrome saya udah mendingan banget. Udah enggak “segila” dulu. Menyehatkan mental dengan keluar dari jebakan star syndrome ini sangat tidak mudah. Karena ego pintar sekali menyelinap dan menyamar

Misal: Merasa udah terbebas dari ego pingin jadi bintang. Yang merasa ini pun ego itu sendiri. Semacam menyombongkan diri bahwa diri tidak sombong.  Seringkali kita enggak sadar kalau kita terkena star syndrome. Siapapun bisa terjebak syndrome ini. Apalagi yang followersnya & subscribernya banyak, apalagi yang mendadak terkenal, OKB.

Di satu sisi, sekarang ini membuka peluang kepada siapapun untuk bisa terkenal secara instant. Social media bikin orang gampang terkena star syndrome. Maunya hanya di like, dipuja, enggak mau kalau ada perbedaan pendapat, sangat takut kalau tidak disukai.

Padahal kenyataannya di hidup ini tentu saja pasti ada yang suka, ada yang enggak suka. Kalau memang berniat menyehatkan mental, paling tidak kurangi keinginan untuk selalu jadi bintang, kurangi keserakahan untuk selalu dipuja. Enggak perlu dikit-dikit unfollow atau block orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Belajarlah jadi manusia biasa-biasa saja.

- Sekian 🙏

No comments:

Post a Comment

silahkan Pos kan Komentarmu, dimohon tidak berbau sara, provokasi, apalagi melanggar hukum, Thank you.